Jumat, 03 Februari 2012

Wisata Gratis Libur Panjang

Pantai Bajul Mati




Malang, 29 January 2012
Kamis, 19 January 2012 lalu, saya melakukan perjalanan ke Pantai Bajul Mati bersama dengan teman-teman. perjalanan cukup lancar, hanya angin kencang yang sedikit mengganggu. Perjalanan melalui bukit, lebih tepatnya menyebrangi bukit karena pantai terletak dibelakang bukit. Pemandangannya menyejukkan mata, menenangkan hati. Kedamaian alam terasa saat kami berada diatas bukit. Angin kencang tidak menghalangi niat kami untuk terus melanjutkan perjalanan. Meski sebenarnya ada sedikit kekhawatiran karena disepanjang jalan yang kami lalui banyak pohon tumbang dikanan-kiri jalan. Pemandangan kota, rumah-rumah yang tersebar dilindungi oleh sejuknya pepohonan tampak lebih indah dilihat dari atas bukit. Benar-benar pemandangan yang menyejukkan mata. perjalanan berlalu selama kurang-lebih 2 jam. Bukan sebuah penyesalan kami jauh-jauh datang kesana. Pemandangan yang kami temukan lebih luar biasa. Angin kencang yang kami khawatirkan justru menjadi pendukung dahsyatnya pemandangan. Ombaknya bbegitu besar daan menantang. Menyesal rasanya jika kita tidak turun langsung sekedar berkanalan dengan ombak bibir pantai. Tidak bisa digambarkan bagaimana kehebatan alam disana.
Diawal rencana, ada sebagian yang ingin berenang. Ketika melihat ombak yang terlalu besar, kami lantas mengurungkan niat untuk berenang. Namun tidak begitu kecewa, karena kami masih dapat melanjutkan perjalannan menjelajahi pantai dengan berjalan bersama-sama menyusuri bibir pantai sambil sekali-kali berlarian berkejaran dengan ombak. Sebagian mereka yang jahil dan senang akan tantangan selalu mencoba mendekati ombak yang datang, lalu kemudian berdiam menahan tekanan yang menariik mereka ketengah laut. Geli, tegang, namun juga menyenangkan. Tawa terbahak tak lepas mengikuti perjalanan kami hingga jauh meninggalkan beskem tempat pemberhentian pertama. Sekali-kali ombak besar datang tanpa kami sadari dan menabrak kami dari belakang saat kami sedanng asyik berpose mengambil gambar membelakaangi laut, alhasil, baju kami basah kuyup terkena air  laut. tapi kkami tetap menikmati perjalanan hingga jauh meninggalkan beskem.
Setelah dirasa cukup, kami berhenti sejenak kemudian melanjutkan perjalanan kearah yang berlawanan,  kembali menuju beskem dan melnjutan kearah yang berlawanan dari  penelusuran awal. Disana kami menemukan  pantai yang lebih tenang. Mereka mengatakan itu adalah muara. Tempat pertemuan air sungai  dan laut. Ombaknya sangat kecil bahkan hampir tidak ada. Ingin rasanya berenang disana, sayang tidak bawa baju ganti. Karena tidak banyak yang mau berenang, akhirnya tidak ada yang berenang.
Pantainya indah, menantang. Namun sayang , sepertinya belum ada perhatian khusus dari pemerintah. Ada seorang penjaga yang sudah cukup tua, setia dari pagi hingga sore menunggu dan menawarkann jasa parkir serta menyediakan tempat mandi umum untuk para pengunjung.. bliau mengatakan, pantai cuukup ramai dikunjungi pada hari sabtu dan minggu. Jika hari-hari biasa, hanya beberapa saja. Ada yang mengatakan ada satu tempat lagi, masih pantai yang sama yang bisa dikunjungi. Disana sudah ada yang berjualan dan lebih ramai pengunjung. namun kami lebih memilih ditempat ini, suasana yang sepi membebaskan kami untuk berekspresi melepas emosi.
Dalam perjalanan pulang, kami sempatkan mampir sebentar menghirup udara segar dan menikmati pemandangan indah diatas jembatan dekat muara. Baru kemudian melanjutkkan perjalanan pulang. Suasana jembatan tidak jauh berbeda indanya dengan yang dipantai. Sungai dikelilingi oleh bukit. Angin yang berhembus kencang mengantarkan sejuknya udara perbukitan mendukung damainya alam.
Dari perjalanan tersebut, kami mmendapatkkan pelajaran baru. Sebuah aset Negara yang disayangkan, belum tersentuhh. Jika dikembangkan, pantai teersebut dapat dijaadikkan sebagai teempat wisata yyang luar biasa. Denngan ombak yang besar dapat menarikk  perhatian turis yang senang bberselancar. Melihat dari warna iarnya juga, pantai tersebut tidak begitu dalam. Kami jadi teringat kembali, betapa kami bangga memiliki Indonesia. Subur, Damai, Sejuk, dan Indah…,,,,
Siapa yang akan menjaga bumi yang sudah tua ini jika bukan kiita.. melakukan perjalanan jelajah alam yang tersembuunyi adalah membuka mata dunia baru memunculkan mutiara-mutiara terpendam yang tak terbayangkan. Jika bukan kita siapa lagi,,???
#bukan sekedar perjalanann biasa