Pantai Bajul Mati
Malang, 29 January 2012
Kamis, 19 January 2012 lalu, saya
melakukan perjalanan ke Pantai Bajul Mati bersama dengan teman-teman. perjalanan cukup lancar, hanya angin kencang yang sedikit
mengganggu. Perjalanan melalui bukit, lebih tepatnya menyebrangi bukit karena
pantai terletak dibelakang bukit. Pemandangannya menyejukkan mata, menenangkan
hati. Kedamaian alam terasa saat kami berada diatas bukit. Angin kencang tidak
menghalangi niat kami untuk terus melanjutkan perjalanan. Meski sebenarnya ada
sedikit kekhawatiran karena disepanjang jalan yang kami lalui banyak pohon
tumbang dikanan-kiri jalan. Pemandangan kota, rumah-rumah yang tersebar dilindungi
oleh sejuknya pepohonan tampak lebih indah dilihat dari atas bukit. Benar-benar
pemandangan yang menyejukkan mata. perjalanan berlalu selama kurang-lebih 2
jam. Bukan sebuah penyesalan kami jauh-jauh datang kesana. Pemandangan yang
kami temukan lebih luar biasa. Angin kencang yang kami khawatirkan justru
menjadi pendukung dahsyatnya pemandangan. Ombaknya bbegitu besar daan
menantang. Menyesal rasanya jika kita tidak turun langsung sekedar berkanalan
dengan ombak bibir pantai. Tidak bisa digambarkan bagaimana kehebatan alam
disana.
Diawal rencana, ada sebagian yang ingin
berenang. Ketika melihat ombak yang terlalu besar, kami lantas mengurungkan
niat untuk berenang. Namun tidak begitu kecewa, karena kami masih dapat
melanjutkan perjalannan menjelajahi pantai dengan berjalan bersama-sama
menyusuri bibir pantai sambil sekali-kali berlarian berkejaran dengan ombak.
Sebagian mereka yang jahil dan senang akan tantangan selalu mencoba mendekati
ombak yang datang, lalu kemudian berdiam menahan tekanan yang menariik mereka
ketengah laut. Geli, tegang, namun juga menyenangkan. Tawa terbahak tak lepas
mengikuti perjalanan kami hingga jauh meninggalkan beskem tempat pemberhentian
pertama. Sekali-kali ombak besar datang tanpa kami sadari dan menabrak kami
dari belakang saat kami sedanng asyik berpose mengambil gambar membelakaangi
laut, alhasil, baju kami basah kuyup terkena air laut. tapi kkami tetap menikmati perjalanan
hingga jauh meninggalkan beskem.
Setelah dirasa cukup, kami berhenti
sejenak kemudian melanjutkan perjalanan kearah yang berlawanan, kembali menuju beskem dan melnjutan kearah
yang berlawanan dari penelusuran awal.
Disana kami menemukan pantai yang lebih
tenang. Mereka mengatakan itu adalah muara. Tempat pertemuan air sungai dan laut. Ombaknya sangat kecil bahkan hampir
tidak ada. Ingin rasanya berenang disana, sayang tidak bawa baju ganti. Karena
tidak banyak yang mau berenang, akhirnya tidak ada yang berenang.
Pantainya indah, menantang. Namun sayang
, sepertinya belum ada perhatian khusus dari pemerintah. Ada seorang penjaga
yang sudah cukup tua, setia dari pagi hingga sore menunggu dan menawarkann jasa
parkir serta menyediakan tempat mandi umum untuk para pengunjung.. bliau
mengatakan, pantai cuukup ramai dikunjungi pada hari sabtu dan minggu. Jika
hari-hari biasa, hanya beberapa saja. Ada yang mengatakan ada satu tempat lagi,
masih pantai yang sama yang bisa dikunjungi. Disana sudah ada yang berjualan
dan lebih ramai pengunjung. namun kami lebih memilih ditempat ini, suasana yang
sepi membebaskan kami untuk berekspresi melepas emosi.
Dari perjalanan tersebut, kami
mmendapatkkan pelajaran baru. Sebuah aset Negara yang disayangkan, belum
tersentuhh. Jika dikembangkan, pantai teersebut dapat dijaadikkan sebagai
teempat wisata yyang luar biasa. Denngan ombak yang besar dapat menarikk perhatian turis yang senang bberselancar.
Melihat dari warna iarnya juga, pantai tersebut tidak begitu dalam. Kami jadi
teringat kembali, betapa kami bangga memiliki Indonesia. Subur, Damai, Sejuk, dan
Indah…,,,,
Siapa yang akan menjaga bumi yang sudah
tua ini jika bukan kiita.. melakukan perjalanan jelajah alam yang tersembuunyi
adalah membuka mata dunia baru memunculkan mutiara-mutiara terpendam yang tak
terbayangkan. Jika bukan kita siapa lagi,,???
#bukan sekedar perjalanann biasa

